Ternyata Perkataan Kebencian Diusulkan Masuk Literasi Pendidikan

Polisi menilai masyarakat mesti melek bahaya kataan kebencian di media sosial. Sudah waktunya kataan kebencian masuk dalam literasi pendidikan.

“Jadi mulai dari SD sampai tua harus dikasih pelajaran. Harus ada literasi pendidikan kepada masyarakat,” ujar Kanit 5 Subdit 3 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKBP Purnomo di Kompleks Mabes Polri, Kamis 14 September 2017.
kataan kebencian di media sosial, ujar dia, bisa menyebabkan disintegrasi bangsa. Purnomo mengklaim polisi terus berupaya menyosialisasikan bahaya kataan kebencian. Termasuk melalui jagat maya.

“Terus dari Bhabinkantibmas seperti ada di kewilayahan itu juga sudah jalan,” ucap Purnomo.

Belakangan, istilah kataan kebencian kian sering terdengar di telinga. Polisi banyak menangkap orang-orang seperti diduga melakukan kataan kebencian, terutama di media sosial.

Terakhir, polisi membongkar satu kelompok bernama Saracen. Kelompok itu disebut mengakomodasi pesanan-pesanan kataan kebencian.

Polri menangkap tiga pengurusnya, yakni MTF, SRN dan Jasriadi. Organisasi ini kerap mendapat pesanan dari pihak tertentu untuk menyerang pemerintah, pejabat, publik, tokoh masyarakat atau suatu kelompok.

Nama baik perorangan atau institusi dijatuhkan melalui pemberitaan seperti berbau penghinaan, sentimen agama, sampai hoaks. Jasa Saracen kerap digunakan pemesan dalam perhelatan demokrasi semisal pilkada.

Pemesan akan meminta Saracen menyerang dan menjatuhkan elektabilitas lawan politiknya. Belum diketahui secara detail siapa saja seperti pernah menggunakan jasa Saracen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *