Ransomware WannaCry Menyerang Pabrik Boeing

Pabrik produksi Boeing di Charleston, South Carolina, Amerika Serikat menjadi korban dari serangan ransomware WannaCry pada hari Rabu.

Ransomware WannaCry Menyerang Pabrik Boeing

Mike VanderWel, Chief Engineering di tim teknisi produksi pesawat komersial Boeing merilis memo untuk seluruh karyawan peruahaan, meminta agar “semua orang” membantu menyelesaikan masalah ini.

“Ransomware itu menyebar dengan cepat dari North Charleston dan saya baru saja mendapatkan kabar bahwa alat perakitan cadangan 777 mungkin sudah tidak bisa digunakan,” kata VanderWel dalam memonya.

Boeing khawatir, malware ini menyerang peralatan yang digunakan dalam pengujian fungsi pesawat, yang bisa membuatnya menyebar ke software pesawat, lapor The Verge.

Biasanya, WannaCry menginfeksi komputer melalui kelemahan pada Windows. Ransomware itu menyebar pada bulan Mei tahun lalu, menyebabkan keresahan di dunia.

Pada awalnya, ransomware tersebut menyerang jaringan rumah sakit di Inggris. Tidak lama kemudian, varian dari malware itu menyebar ke lbih dari 150 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Ketika itu Kementerian Komunikasi dan Informatika segera mengumumkan cara untuk meminimalisir kerusakan yang bisa disebabkan oleh WannaCry.

Sayangnya, itu tidak mencegah banyak komputer terinfeksi WannaCry. Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah korban WannaCry terbanyak. Per Desember 2017, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump menyatakan bahwa ransomware itu dibuat oleh Korea Utara.

Sama seperti ransomware lain, WannaCry mengunci komputer yang telah terinfeksi, memaksa korban untuk membayar sejumlah uang, biasanya dalam bentuk mata uang virtual, jika mereka ingin komputer bisa digunakan kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *